BANYUWANGI, GEMADIKA.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberikan tekanan kepada pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor. Salah satu sektor yang merasakan dampaknya adalah industri tahu dan tempe yang menggunakan kedelai impor sebagai bahan baku utama.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh perajin tahu di Banyuwangi, Jawa Timur. Kenaikan harga kedelai impor dalam beberapa bulan terakhir membuat biaya produksi meningkat, sementara kemampuan pelaku usaha untuk menyesuaikan harga jual kepada konsumen sangat terbatas.

Berdasarkan data yang beredar, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp17.861 per dolar AS pada Jumat (29/5/2026). Kondisi ini turut memengaruhi harga berbagai komoditas impor, termasuk kedelai yang selama ini menjadi bahan baku utama industri tahu dan tempe di Indonesia.

Perajin tahu asal Banyuwangi, Nurul Hakim, mengaku lonjakan harga kedelai impor memberikan dampak signifikan terhadap kelangsungan usahanya.

“Dampaknya besar sekali. Harga kedelai dalam lima bulan terakhir ini sudah naik Rp 2.000 per kilogram,” kata Hakim, Jumat (29/5/2026).

Menurutnya, kenaikan biaya produksi tidak mudah diimbangi dengan penyesuaian harga jual karena daya beli masyarakat juga menjadi pertimbangan utama.

“Harga bahan baku naik. Tapi tidak mungkin saya naikkan harga jual. Paling bisanya mengecilkan ukuran tahu,” tambahnya.

Strategi mengurangi ukuran produk menjadi salah satu langkah yang banyak ditempuh pelaku usaha kecil untuk mempertahankan pelanggan di tengah kenaikan biaya produksi. Cara tersebut dinilai lebih memungkinkan dibandingkan menaikkan harga secara langsung yang berisiko menurunkan penjualan.

Hakim menuturkan, kondisi serupa sebenarnya pernah terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu, harga kedelai impor mengalami lonjakan tajam sehingga memaksa pelaku usaha melakukan berbagai penyesuaian.

“Harganya masih sama seperti sekarang. Jadi kalau sekarang harga kedelai Rp 10.500 per kg, sebenarnya masih ada untung. Tapi makin tipis, Hanya usaha saya yang masih berjalan sampai sekarang,” pungkasnya.

Ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor membuat industri tahu dan tempe sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan kondisi pasar global. Ketika nilai dolar AS menguat, harga bahan baku cenderung meningkat sehingga berdampak langsung pada biaya produksi pelaku usaha.

Pelaku usaha berharap stabilitas nilai tukar dan ketersediaan pasokan kedelai dapat terjaga agar industri tahu dan tempe, yang menjadi salah satu penopang ekonomi rakyat, tetap mampu bertahan di tengah tantangan ekonomi global.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami