JAKARTA, GEMADIKA.com – Polemik dugaan intimidasi terhadap putri penulis Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana (ISF), terus menjadi perhatian publik. Dewan Pimpinan Pusat GRIB Jaya melalui Wakil Ketua Bidang Hukum dan Advokasi, Wilson Colling, membantah tuduhan bahwa Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall, melakukan penodongan pistol kepada ISF.

Wilson meminta agar seluruh tuduhan yang disampaikan di ruang publik dapat dibuktikan secara hukum dan tidak hanya menjadi narasi untuk menarik simpati masyarakat.

“Sekarang di ruang publik seolah-olah dia disekap dan ada berita-berita penodongan pistol. Nah, itu nanti harus bisa dibuktikan, jangan sampai hanya itu narasi yang dibangun di ruang publik untuk menarik simpati, tapi tidak bisa dibuktikan,” ujar Wilson, Sabtu (23/5/2026).

Wilson menilai tudingan terkait penyekapan dan penodongan senjata api di markas GRIB Jaya, Kedoya, Jakarta Barat, harus diuji melalui proses hukum yang jelas.

Ia mengaku berada di lokasi saat peristiwa itu terjadi dan mengklaim tidak melihat adanya tindakan seperti yang dituduhkan.

“Katanya disekap dan lainnya, sedangkan di situ ada tokoh agama, ada RW. Ya sudah nanti di sini dibuktikan saja. Dan ada pistol, ada tembakan, sedangkan saya sendiri, saya dari luar kota langsung menuju ke situ, saya tidak pernah melihat itu,” tegasnya.

Wilson juga menyayangkan langkah kuasa hukum ISF yang secara terbuka menyebut nama Hercules dalam tuduhan tersebut tanpa menunggu proses pembuktian hukum.

“Seluruh rangkaian cerita-cerita itu PH-nya tidak mengedepankan azas praduga tak bersalah, menyebut secara bulat-bulat nama Hercules menodong dan lainnya, sedangkan menodong, menyekap itu harus ada bukti dan unsur-unsurnya,” kata Wilson.

Sebelumnya, ISF (33) mengaku mengalami intimidasi setelah dibawa ke markas pusat GRIB Jaya di Jakarta Barat pada Minggu (17/5/2026). Menurut pengakuannya, sejumlah orang mendatangi rumahnya di Cimanggis, Depok, untuk mencari keberadaan ayahnya.

“Saya sudah bilang, saya gak mau ikut gitu kan. Ya karena kan yang dicari bapak. Tapi mereka tetap memaksa saya untuk ikut,” ujar ISF.

Ia mengatakan jumlah orang yang datang terus bertambah hingga membuat dirinya merasa takut. ISF mengaku akhirnya ikut ke markas GRIB setelah Ketua RW dan Babinsa setempat datang ke lokasi.

Menurut ISF, setibanya di markas GRIB Jaya dirinya diminta menunggu Hercules. Dalam pertemuan tersebut, ia mengaku dituduh mengirim ancaman kepada Hercules dan istrinya.

“Setelah Pak Hercules datang, Pak Hercules masih tetap bilang, ‘kamu nih ya ngapain ancam-ancam saya dan istri saya’. Saya bilang, ‘maaf Pak, bukan saya’. Tapi beliau tetap tidak percaya,” ujar ISF.

ISF juga mengaku mendapat intimidasi verbal selama berada di lokasi. Ia mengaku merasa tertekan karena berada di tengah banyak pria bertubuh besar.

“Lagian saya siapa sih berani-beraninya ngancam beliau, urusan saya apa, saya kenal aja enggak, tahu istrinya juga enggak tahu siapa,” katanya.

Selain itu, ISF mengaku sempat mendapat ucapan yang dianggap tidak pantas, termasuk perintah untuk melepas jilbabnya.

“Dia bilang, ‘kamu nih gimana sih kamu kan perempuan, kamu harusnya berbuat baik, copot aja itu jilbab kamu’,” tutur ISF.

Tak hanya itu, ISF juga mengaku diancam tidak bisa pulang jika ayahnya tidak datang menemui Hercules.

“Kalau bapak kamu enggak datang sekarang, kamu enggak akan bisa pulang dari sini,” kata ISF menirukan ucapan yang diterimanya.

Dalam keterangannya, ISF turut mengaku melihat Hercules mengeluarkan pistol dan menembakkannya sebanyak dua kali.

“Dia mengeluarkan pistol itu kan. Terus, ‘kamu kalau berani nih kamu lihat nih ya’, sambil tunjuk-tunjuk. Saya pikir enggak bakal sampai menembakkan gitu kan. ‘Nih saya tembakkan, dor dor’, dua kali dia tembakkan,” ujarnya.

Hingga kini, polemik tersebut masih menjadi perhatian publik dan belum ada kesimpulan hukum resmi terkait tuduhan maupun bantahan dari kedua belah pihak.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami