JAKARTA, GEMADIKA.com – Perkembangan media sosial saat ini tidak lagi terbatas sebagai sarana berjejaring. Platform digital tersebut telah berevolusi menjadi alat yang mampu menggerakkan massa, membentuk opini publik, hingga memengaruhi dinamika politik di berbagai negara.
Guru Besar Media FISIP Universitas Airlangga, Rachmah Ida, menjelaskan bahwa fungsi media sosial terus berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat yang semakin kompleks.
“Komunikasi tatap muka sekarang jauh berkurang daripada komunikasi yang berlangsung melalui media,” ujarnya dalam laman UNAIR, dikutip Jumat (12/6/2026).
Media Sosial Jadi Penggerak Publik
Menurut Ida, media sosial memiliki karakter yang berbeda dengan media massa. Jika media massa bekerja melalui proses jurnalistik yang terstruktur, media sosial justru memberikan ruang bagi setiap individu untuk menjadi penyebar informasi.
Kondisi ini membuat media sosial berperan sebagai sarana mobilisasi massa, wadah gerakan sosial, hingga instrumen yang memengaruhi dinamika politik global.
Ia mencontohkan Arab Spring sebagai bukti nyata bagaimana media sosial mampu mengorganisasi gerakan masyarakat dalam skala besar. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi bagian penting dalam sistem demokrasi karena membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi.
“Media sosial bahkan berperan sebagai sarana mobilisasi massa, wadah gerakan sosial, hingga instrumen yang turut memengaruhi dinamika politik di berbagai negara,” papar Ida.
Dimanfaatkan di Dunia Pendidikan
Tidak hanya dalam ranah sosial dan politik, media sosial juga dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. Laporan dari University of Michigan menunjukkan bahwa banyak akademisi menggunakan media sosial untuk menyebarluaskan hasil riset, membangun diskusi publik, hingga menjangkau pembuat kebijakan.
Dalam laporan #SocialScholars: Professors Show Power of Public Engagement, disebutkan bahwa media sosial mampu menghubungkan akademisi dengan masyarakat global tanpa batas geografis.
Dosen School of Education University of Michigan, Liz Kolb, bahkan menyebut media sosial sebagai alat yang sangat kuat untuk membangun kolaborasi dan berbagi pengetahuan lintas negara.
“Ini adalah alat yang bisa sangat kuat,” kata Kolb.
Membentuk Opini Publik
Di Indonesia, Ida melihat besarnya pengaruh media sosial melalui fenomena “No Viral No Justice”. Konten yang viral kerap menjadi pemicu perhatian publik sekaligus mendorong respons cepat dari berbagai pihak.
Kajian dari Georgetown University juga menguatkan hal tersebut. Associate Research Professor di McCourt School of Public Policy, Renee DiResta, menjelaskan bahwa media sosial telah mengubah peran audiens dari sekadar penerima informasi menjadi pihak yang ikut menentukan informasi apa yang akan viral.
Algoritma, influencer, serta interaksi pengguna seperti komentar dan tanda suka menciptakan siklus yang memperkuat penyebaran suatu narasi.
Kondisi ini membuka peluang bagi masyarakat untuk menyuarakan isu penting, namun di sisi lain juga meningkatkan risiko penyebaran hoaks, rumor, dan polarisasi.
“Hasilnya adalah sebuah lingkungan ketika perhatian yang viral sering kali lebih diutamakan daripada akurasi, dan rumor dapat berubah menjadi kenyataan melalui pengulangan dan pembenaran,” ujar Ida.
Tantangan Literasi Digital
Di tengah besarnya pengaruh media sosial, Ida menegaskan pentingnya literasi digital bagi masyarakat. Tanpa kemampuan memilah informasi, pengguna berpotensi membentuk opini berdasarkan informasi yang belum tentu benar.
Penelitian Georgetown University juga menekankan bahwa peningkatan literasi digital menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem media sosial yang sehat.
Selain dukungan teknologi, kesadaran pengguna dalam mengelola informasi yang dikonsumsi dan dibagikan juga menjadi faktor penting.
Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga ruang publik yang membutuhkan tanggung jawab bersama agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Dilansir dari Detikedu.




