JAKARTA, GEMADIKA.com – Perlemakan hati atau fatty liver selama ini kerap dikaitkan dengan pola makan yang buruk. Namun, para ahli menegaskan bahwa penyebab penyakit ini jauh lebih kompleks karena dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari aktivitas fisik, kondisi metabolik, faktor genetik, hingga paparan polusi udara.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr. Rino Alvani Gani, menjelaskan bahwa makanan memang menjadi salah satu faktor utama penyebab penumpukan lemak di hati. Meski demikian, kondisi tersebut tidak hanya ditentukan oleh jenis makanan yang dikonsumsi.

“Terjadinya fatty liver itu tidak hanya tergantung oleh makanannya, tetapi juga banyak hal-hal lain, seperti aktivitas, faktor metabolik, genetik, hingga jumlah tidur. Jadi, tidak hanya makanan yang berpengaruh,” ujar dr. Rino dalam Diskusi Media Global Fatty Liver Day 2026 di Jakarta.

Menurutnya, dua orang dengan pola makan yang sama belum tentu memiliki tingkat perlemakan hati yang sama. Aktivitas fisik menjadi salah satu pembeda yang sangat berpengaruh.

“Kalau makannya sama-sama banyak, tetapi satu rutin berolahraga dan satunya tidak, tentu yang tidak berolahraga memiliki risiko lebih besar mengalami perlemakan hati,” jelasnya.

Mikrobiota Usus dan Polusi Udara Ikut Berperan

Selain gaya hidup, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa kesehatan mikrobiota usus berpengaruh terhadap munculnya perlemakan hati. Ketidakseimbangan bakteri baik di dalam usus dapat memicu penumpukan lemak serta peradangan pada organ hati melalui mekanisme yang dikenal sebagai gut-liver axis atau hubungan usus dan hati.

Di sisi lain, kualitas udara juga menjadi faktor yang mulai mendapat perhatian para peneliti. Sejumlah studi menunjukkan bahwa paparan polusi udara seperti PM2.5, PM10, nitrogen oksida (NOx), asap rokok pasif, hingga polusi dari bahan bakar padat dapat meningkatkan risiko terjadinya perlemakan hati.

Bahkan, dampak polusi PM2.5 terhadap penyakit ini dilaporkan lebih tinggi di negara berkembang dibandingkan negara maju.

Faktor Genetik Masih Terus Diteliti

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes RSCM, dr. Dicky Levenus Tahapary, mengatakan faktor genetik juga diduga memiliki hubungan dengan perlemakan hati, meski penelitian di Indonesia masih terus berlangsung.

RSCM saat ini tengah melakukan penelitian terhadap sekitar 4.500 pasien diabetes. Hasil sementara menunjukkan sekitar 50 hingga 70 persen pasien diabetes juga mengalami perlemakan hati.

“Kami masih mendalami apakah faktor genetik memiliki peran besar terhadap perkembangan fatty liver hingga menjadi fibrosis atau sirosis. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pendekatan pengobatan di masa depan,” ujarnya.

Pencegahan Tetap Mengutamakan Gaya Hidup Sehat

Para dokter mengingatkan bahwa pencegahan perlemakan hati tetap berfokus pada penerapan gaya hidup sehat. Masyarakat dianjurkan menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidur yang cukup, serta mengendalikan penyakit metabolik seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi.

Dengan memahami bahwa penyebab perlemakan hati tidak hanya berasal dari makanan, diharapkan masyarakat lebih memperhatikan berbagai faktor risiko lain agar fungsi hati tetap terjaga dan terhindar dari komplikasi serius seperti sirosis maupun gagal hati.

Dilansir dari CNNIndonesia.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami