BANJARNEGARA, GEMADIKA.com Kepolisian Sektor (Polsek) Purwanegara masih mendalami kasus tawuran antar kelompok remaja yang terjadi di Desa Merden, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara. Peristiwa yang sempat viral di media sosial tersebut mengakibatkan dua pelajar mengalami luka dan sejumlah remaja harus menjalani pemeriksaan oleh pihak kepolisian.

Kapolsek Purwanegara AKP Edi Widya Pramono mengatakan, kejadian berlangsung pada Sabtu (30/5/2026) sekitar pukul 03.00 WIB di kawasan Dukuh Kalidepok, Dusun Karangkajen, Desa Merden, tepatnya di sekitar bekas lokasi stok file Pasir Putih.

“Hasil penyelidikan awal, peristiwa tersebut merupakan dugaan perkelahian antara dua kelompok remaja yang sebelumnya telah membuat janji untuk bertemu,” kata AKP Edi Widya, Senin (1/6/2026).

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, konflik bermula dari komunikasi melalui media sosial Instagram pada Jumat (29/5/2026). Salah satu kelompok diduga menerima tantangan dari kelompok lain untuk bertemu di kawasan Pasir Putih Merden.

Menjelang dini hari, sejumlah remaja dari kedua kelompok bergerak menuju lokasi yang telah disepakati. Namun saat tiba di lokasi awal, salah satu kelompok tidak ditemukan sehingga rombongan melanjutkan perjalanan ke arah Mandiraja.

Di tengah perjalanan, kedua kelompok akhirnya bertemu di jalan raya. Polisi menduga para remaja membawa senjata tajam berupa sabit dan pisau. Ketegangan yang terjadi kemudian berujung aksi saling serang hingga para peserta tawuran berpencar.

Akibat insiden tersebut, dua pelajar mengalami luka. Satu korban mengalami luka sobek di bagian paha kiri, sementara korban lainnya mengalami luka lecet pada bagian punggung. Keduanya telah mendapatkan penanganan medis.

Warga yang mengetahui kejadian tersebut turut membantu mengamankan situasi dan melaporkan peristiwa itu kepada aparat kepolisian. Sejumlah remaja yang diduga terlibat kemudian diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa beberapa unit sepeda motor, empat bilah sabit, satu pisau berukuran besar, dan satu unit telepon seluler.

“Polsek Purwanegara juga berhasil mengamankan kedua kelompok berikut sejumlah barang bukti yang digunakan maupun dibawa saat kejadian, kata AKP Edi.

Faktor Psikologis dan Lingkungan

Menanggapi maraknya tawuran yang melibatkan kalangan remaja, Psikolog Klinis Utama RSUD Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, Gones Saptowati, S.Psi., M.A., menjelaskan bahwa perilaku tersebut tidak lepas dari proses perkembangan otak pada usia remaja.

Menurutnya, dari sudut pandang psikologi perkembangan dan neuroscience, remaja masih berada dalam tahap pematangan bagian otak yang disebut prefrontal cortex (PFC), yaitu area yang berfungsi mengendalikan emosi, mempertimbangkan risiko, mengambil keputusan, serta mengontrol perilaku.

“Prefrontal cortex baru berkembang secara optimal pada usia sekitar 20 hingga 25 tahun. Sementara usia remaja SMP dan SMA masih berada pada fase perkembangan sehingga fungsi-fungsi tersebut belum bekerja secara maksimal,” katanya.

Kondisi tersebut membuat remaja cenderung lebih mudah bertindak berdasarkan emosi dibandingkan pertimbangan rasional. Akibatnya, mereka lebih rentan terlibat dalam perilaku berisiko seperti tawuran maupun bentuk kenakalan remaja lainnya.

Selain faktor biologis, Gones menjelaskan bahwa masa remaja juga merupakan fase pencarian identitas diri. Pada tahap ini, kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan menjadi sangat kuat sehingga sering kali memengaruhi cara berpikir dan bertindak.

“Mereka lebih mengutamakan loyalitas kelompok. Karena kemampuan menganalisis risiko belum matang, keputusan yang diambil lebih banyak dipengaruhi emosi dan dorongan untuk diterima oleh teman sebaya,” katanya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan remaja dalam tawuran tidak hanya dipengaruhi perkembangan otak, tetapi juga faktor keluarga, lingkungan sosial, pola asuh, serta karakter individu masing-masing.

Menurutnya, remaja yang merasa kurang mendapatkan perhatian atau dukungan emosional di lingkungan keluarga berpotensi mencari pengakuan di luar rumah, termasuk melalui kelompok pergaulan tertentu.

“Bisa jadi di rumah mereka merasa kurang diterima. Namun ketika berada di kelompok tertentu, mereka merasa dihargai dan mendapatkan pengakuan. Perasaan diterima inilah yang membuat mereka semakin loyal terhadap kelompok tersebut meskipun aktivitasnya berisiko,” ujarnya.

Karena itu, upaya pencegahan tawuran tidak cukup hanya melalui penegakan hukum. Peran keluarga, sekolah, masyarakat, serta pendampingan psikologis juga sangat penting untuk membantu remaja mengembangkan kemampuan mengelola emosi dan mengambil keputusan secara lebih bijak.

“Perilaku remaja merupakan hasil interaksi banyak faktor. Selain perkembangan otak, lingkungan keluarga dan sosial memiliki peran besar dalam membentuk cara mereka berpikir dan mengambil keputusan,” katanya.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami