JAKARTA, GEMADIKA.com – Bagi banyak orang dengan riwayat kolesterol tinggi, keju kerap menjadi salah satu makanan yang langsung dihindari. Alasannya sederhana: keju mengandung lemak jenuh yang dikenal dapat meningkatkan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) atau yang sering disebut sebagai “kolesterol jahat”.

Namun, sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa hubungan antara konsumsi keju dan kadar kolesterol ternyata tidak sesederhana itu. Para ahli menilai, efek keju terhadap kesehatan jantung tidak bisa hanya dilihat dari kandungan lemak jenuhnya saja.

Mengapa Keju Dianggap Berbahaya?

Pandangan bahwa keju dapat meningkatkan kolesterol berasal dari berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa lemak jenuh memang berkontribusi terhadap kenaikan kadar LDL dalam darah.

Sejumlah organisasi kesehatan dunia, seperti World Health Organization dan American Heart Association, masih merekomendasikan pembatasan konsumsi lemak jenuh sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung.

Namun, para ilmuwan kini mulai mempertanyakan apakah suatu makanan bisa dinilai hanya dari satu kandungan gizinya saja.

Efek Keju Ternyata Lebih Kompleks

Penelitian yang dipimpin oleh Arne Astrup Thorning dan timnya yang dipublikasikan dalam jurnal American Journal of Clinical Nutrition pada 2021 menunjukkan bahwa efek produk susu terhadap kesehatan jantung tidak dapat diprediksi hanya dari kandungan lemak jenuhnya.

Baca juga :  6 Juni 2026 Memperingati Apa? Ini Deretan Hari Penting dari Bung Karno hingga Peringatan Dunia

Para peneliti memperkenalkan konsep food matrix, yaitu struktur keseluruhan makanan yang mencakup interaksi antara protein, kalsium, lemak, serta proses fermentasi. Struktur ini memengaruhi cara tubuh mencerna dan menyerap zat gizi.

Temuan serupa juga dipublikasikan dalam jurnal Advances in Nutrition tahun 2023 yang menyebut bahwa hubungan antara produk susu dan kesehatan kardiovaskular jauh lebih kompleks dibandingkan pemahaman sebelumnya.

Keju vs Mentega: Hasilnya Berbeda

Salah satu penelitian penting dilakukan oleh Janne Hjerpsted dan timnya pada 2011. Studi tersebut membandingkan konsumsi keju dan mentega dengan kandungan lemak yang sama.

Hasilnya cukup mengejutkan. Setelah enam minggu, peserta yang mengonsumsi keju justru memiliki kadar kolesterol LDL lebih rendah dibandingkan kelompok yang mengonsumsi mentega.

Penelitian lain oleh Klaus Tholstrup pada 2005 juga menemukan bahwa mentega meningkatkan kolesterol total dan LDL lebih tinggi dibandingkan keju dengan jumlah lemak yang sama.

Baca juga :  Ancol Gratiskan Tiket Masuk hingga 19 Juni 2026, Ini Cara Klaim dan Syaratnya

Temuan ini diperkuat oleh meta-analisis yang dilakukan oleh Dominik Alexander pada 2016 dalam European Journal of Nutrition, yang menyimpulkan bahwa konsumsi keju tidak berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner.

Tetap Harus Bijak Mengonsumsi

Meski hasil penelitian menunjukkan bahwa keju tidak selalu berdampak buruk terhadap kolesterol, para ahli tetap mengingatkan bahwa konsumsi berlebihan tidak dianjurkan.

Keju tetap mengandung kalori, lemak jenuh, dan natrium yang perlu diperhatikan, terutama bagi individu dengan risiko penyakit jantung atau kolesterol tinggi.

Pada akhirnya, yang paling menentukan kesehatan bukanlah satu jenis makanan, melainkan pola makan secara keseluruhan.

Kesimpulan

Jadi, benarkah keju bikin kolesterol naik? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Keju memang mengandung lemak jenuh, tetapi efeknya terhadap tubuh bisa berbeda dibandingkan sumber lemak lain.

Karena itu, keju tetap bisa dikonsumsi dalam jumlah wajar sebagai bagian dari pola makan sehat dan seimbang.

Dilansir dari Detikhelt.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami