JAKARTA, GEMADIKA.com – Pencarian pelatih baru Timnas Indonesia terus menjadi sorotan publik. Meski hingga kini sosok pengganti Shin Tae-yong masih menjadi teka-teki, Wakil Ketua Umum PSSI Zainudin Amali mulai membuka kriteria pelatih yang sedang diburu federasi sepak bola Tanah Air.

Dalam perbincangan dengan awak media, Zainudin mengungkapkan bahwa pelatih baru harus mampu membawa Timnas Indonesia mencapai target-target jangka pendek hingga menengah yang telah ditetapkan PSSI.

Target Jelas: ASEAN hingga Piala Dunia 2030

Zainudin menegaskan bahwa pelatih yang dicari harus memiliki visi jelas untuk membawa Garuda ke berbagai kompetisi penting.

“Ya tentu yang membawa kita ke target-target kan. Nanti di ASEAN seperti apa, kan gitu ya. Kan nanti ada ASEAN-FIFA Cup ya,” ucap Zainudin.

“Kemudian di Asia seperti apa. Kemudian kalau Piala Dunia kan 2030. Sementara kepengurusan kami ini hanya sampai 2027. Jadi kami bersama-sama sampai dengan 2027,” kata Zainudin menambahkan.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa PSSI menginginkan pelatih yang tidak hanya fokus pada kompetisi regional seperti Piala AFF dan Piala Asia, tetapi juga memiliki roadmap jangka panjang menuju Piala Dunia 2030.

Kontrak Fleksibel, Tergantung Negosiasi

Terkait durasi kontrak pelatih baru, Zainudin menyebutkan bahwa keputusan akan sangat bergantung pada hasil pembicaraan awal yang dilakukan oleh Kepala Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji.

Sumardji adalah sosok kunci yang diberi kepercayaan penuh oleh PSSI untuk menyeleksi calon pelatih Timnas Indonesia. Hasil seleksi dan negosiasinya nantinya akan dibawa ke Rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI untuk diputuskan bersama.

“Ya kita lihat aja, kan. Pembicaraan Pak Mardji akan menentukan. Pak Mardji kan pasti mereka minta kondisi. Kita akan pertimbangkan dan dengan kemampuan kita lah. Kita harus realistis,” ucap Zainudin.

Realistis Soal Anggaran, Tapi Tak Kendur Soal Kualitas

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga ini juga menekankan pentingnya sikap realistis dalam menentukan pelatih. PSSI tidak akan memaksakan diri merekrut pelatih dengan permintaan gaji yang di luar kemampuan finansial federasi.

“Misalnya, kalau permintaannya terlalu mahal dan federasi enggak mampu, kan enggak boleh juga kita maksa kan. Jadi sesuai dengan kemampuan kita, tetapi kualitas juga kita minta,” kata Zainudin.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa PSSI akan mencari keseimbangan antara budget yang tersedia dengan kualitas pelatih yang diinginkan. Federasi tidak ingin mengulang kesalahan masa lalu dengan merekrut pelatih mahal namun tidak memberikan hasil maksimal.

Tidak Ada Voting, Fokus pada Target

Zainudin juga memberikan kepastian bahwa proses penentuan pelatih Timnas Indonesia dalam Rapat Exco nantinya tidak akan menggunakan sistem voting seperti yang sering terjadi dalam pemilihan-pemilihan sebelumnya.

“Enggak, kami enggak mau voting-voting. Yang penting targetnya jelas. Kemudian ini orang bisa memenuhi target atau enggak. Kami enggak macam-macam gitu lho. Enggak banyak harus ini, harus itu. Itu aja,” kata Zainudin.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa PSSI ingin lebih pragmatis dalam memilih pelatih. Kriteria utamanya sederhana namun jelas: mampu membawa tim mencapai target yang sudah ditetapkan.

Proses Seleksi Masih Berlangsung

Hingga saat ini, proses pencarian dan seleksi pelatih baru Timnas Indonesia masih terus berlangsung. Berbagai nama pelatih asing maupun lokal terus bermunculan sebagai kandidat kuat, meski belum ada kepastian resmi dari PSSI.

Yang pasti, keputusan final akan diambil setelah Sumardji menyelesaikan negosiasi dengan kandidat-kandidat yang masuk dalam daftar pendek. Setelah itu, hasilnya akan dibahas dalam Rapat Exco PSSI untuk mendapatkan persetujuan bersama.

Publik sepak bola Indonesia pun masih menanti pengumuman resmi siapa sosok yang akan memimpin skuad Garuda dalam kompetisi-kompetisi mendatang. Harapannya, pelatih baru dapat segera diumumkan agar proses persiapan tim bisa dimulai dengan persiapan matang.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami