JAKARTA, GEMADIKA.com – Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Naniek Sudaryati Deyang, mengungkapkan dirinya mengalami “trauma akut” terkait urusan keuangan setelah memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya karena alasan kesehatan.

Pernyataan tersebut disampaikan Naniek melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Rabu (22/7/2026). Dalam unggahan itu, ia mengungkapkan kemungkinan masih diminta Presiden Prabowo Subianto untuk ikut mengawasi Badan Gizi Nasional melalui dewan pengawas.

“Presiden menyetujui, namun saya diminta tetap ikut mengawasi BGN. Kemungkinan Presiden akan membentuk dewan pengawas, di mana saya disuruh menjadi ketua dewan pengawasnya,” tulis Naniek.

Ia kemudian berkelakar masih sanggup memberikan masukan selama tidak lagi berurusan dengan pengelolaan keuangan.

“Kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akuttt,” tulisnya disertai emoji tertawa.

Dalam unggahan yang sama, Naniek menjelaskan bahwa dirinya memilih mundur sebagai Kepala BGN karena akan menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri.

“Saya sampaikan ke Presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya,” ujarnya.

Meski tidak lagi menjabat, Naniek menegaskan akan tetap mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah.

Apa Itu Trauma Akut?

Secara medis, trauma akut merupakan respons emosional atau psikologis yang muncul setelah seseorang mengalami satu peristiwa yang sangat berat atau mengancam. Kondisi ini dapat berkembang menjadi Acute Stress Disorder (ASD), bahkan berlanjut menjadi Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) apabila gejalanya menetap lebih dari satu bulan.

Menurut informasi yang dikutip dari Healthline, gejala trauma akut umumnya muncul dalam waktu tiga hari hingga satu bulan setelah kejadian traumatis.

Gejala Trauma Akut yang Perlu Dikenali

Beberapa gejala yang dapat muncul antara lain:

Gejala intrusif, seperti kilas balik (flashback), mimpi buruk, atau ingatan yang terus muncul tanpa dapat dikendalikan.
Perubahan suasana hati, seperti merasa hampa, putus asa, atau sulit merasakan emosi positif.
Gejala disosiatif, misalnya merasa lingkungan sekitar tidak nyata, merasa terpisah dari diri sendiri, atau sulit mengingat bagian penting dari kejadian traumatis.
Perilaku menghindar, yaitu menghindari tempat, orang, percakapan, maupun pikiran yang mengingatkan pada peristiwa tersebut.
Peningkatan kewaspadaan, seperti sulit tidur, mudah terkejut, sulit berkonsentrasi, serta mudah marah atau tersinggung.

Para ahli menyarankan agar seseorang yang mengalami gejala tersebut melakukan perawatan diri, menjaga rutinitas harian, serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila kondisi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dilansir dari Detikhelt.

Untuk Informasi dan Layanan Tentang Kami Klik Kontak Kami