PALEMBANG, GEMADIKA.com – Kesejahteraan petani di Sumatra Selatan (Sumsel) mengalami peningkatan signifikan pada Mei 2026. Hal ini tercermin dari naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 141,54, atau meningkat 6,61 persen dibandingkan bulan April 2026 yang berada di angka 132,76.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat kenaikan ini menjadi salah satu capaian tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, yang menunjukkan adanya perbaikan daya beli dan pendapatan petani di daerah tersebut.
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto, menjelaskan bahwa kenaikan NTP dipengaruhi oleh meningkatnya indeks harga yang diterima petani dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani.
“Kenaikan disebabkan adanya kenaikan yang cukup tinggi dari indeks harga yang diterima petani sebesar 184,81 atau 7,39 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani hanya 130,58 atau 0,73 persen,” ujar Wahyu, Selasa (2/6/2026).
Dari lima subsektor pertanian yang tercatat, empat subsektor mengalami kenaikan, sementara satu subsektor justru mengalami penurunan. Kenaikan tertinggi terjadi pada subsektor perkebunan rakyat dengan NTPR mencapai 158,12 atau naik 8,18 persen.
Kenaikan pada subsektor perkebunan rakyat ini terutama didorong oleh meningkatnya harga komoditas utama seperti karet yang naik 12,64 persen, kelapa sawit 2,97 persen, serta komoditas lain seperti cabai merah, sapi potong, dan gabah yang juga mengalami kenaikan harga.
Selain perkebunan, subsektor hortikultura juga mencatat pertumbuhan dengan kenaikan NTP sebesar 3,54 persen menjadi 100,19. Sementara itu, subsektor tanaman pangan naik 1,17 persen dan peternakan meningkat 0,38 persen.
Namun demikian, subsektor perikanan menjadi satu-satunya yang mengalami penurunan. NTP perikanan turun 0,81 persen, yang dipicu oleh penurunan pada nelayan dan pembudidaya ikan.
Di sisi lain, BPS juga mencatat adanya kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) petani sebesar 0,81 persen menjadi 131,59. Kenaikan ini dipengaruhi oleh naiknya sejumlah harga bahan pangan seperti cabai merah, cabai rawit, ketimun, dan bawang merah.
Sementara itu, Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) juga mengalami kenaikan tipis sebesar 0,43 persen menjadi 126,50.
Dengan kondisi tersebut, BPS menilai bahwa sektor perkebunan, terutama karet dan sawit, masih menjadi penopang utama peningkatan kesejahteraan petani di Sumsel pada periode Mei 2026.





Tinggalkan Balasan Batalkan balasan